Sekolah Gajahwong, Sekolah bagi Masyarakat Kurang Mampu di Yogyakarta

Berbagisemangat.com – Gang sempit dengan lebar kira-kira 1,5 meter di antara dua rumah gedong mengantarkan ke perkampungan tanpa alamat yang diberi nama Ledok Timoho di bantaran kali Gajahwong. Di antara rumah warga terdapat dua bangunan masing-masing seukuran sekitar 4×7 meteran yang digunakan anak-anak untuk mengenyam pendidikan. Mereka menyebut tempat itu Sekolah Gajahwong.

Meski hanya terdapat dua kelas, sekolah ini menjadi harapan bagi warga sekitar yang rata-rata bekerja sebagai pemulung. Bagi mereka sekolah itu menjadi pondasi pendidikan anak-anak mereka supaya kelak tidak bernasib seperti orang tuanya.

Gambar terkait

“Semangatnya mendirikan sekolah ini, anak-anak orang-orang di sini tidak lagi seperti orang tuanya, nasib mereka harus lebih bagus,” kata Faiz Fakhruddin, salah seorang perintis sekolah Gajahwong yang kini menjadi kepala sekolah.

Sekolah Gajahwong terdiri dari dua kelas, yaitu kelas akar untuk anak-anak usia 3-5 tahun dan kelas rumput untuk anak-anak usia 5-7 tahun. Setiap harinya anak-anak belajar mulai dari pukul 07.30 WIB hingga pukul 11.00 WIB.

“Dulu yang sekolah di sini ya anak-anak warga di sini, sekarang sudah beberapa dari kampung lain,” tambahnya.

Untuk bisa bersekolah di sini pun, orang-orang tidak perlu membayar dengan uang. Para orangtua murid hanya dimintai sampah sebagai gantinya.

“Dibilang gratis ya gratis, tapi bukan gratis. Poinnya orang tua murid punya kontribusi. Ada sumbangan sampah dan piket bersih-bersih kelas,” ungkapnya.
Gambar terkait
Sekolah Gajahwong dirintis pada tahun 2011 atas kegelisahan nasib para anak-anak pemulung yang tidak mengalami perubahan. Hampir semua anak pemulung menjadi pemulung, anak pengamen menjadi pengamen. Tidak ada kemajuan.

Menyadari itu, Komunitas Tabah (Advokasi Arus Bawah) yang selama ini melakukan pendampingan masyarakat di Ledok Timoho mengusulkan untuk membuat sekolah usia dini. Mereka berpendapat untuk memperbaiki nasib, anak-anak pemulung harus mendapat pendidikan yang baik.

“Saat itu ada kesimpulan warga harus memotong mata rantai kemiskinan dengan pendidikan. Saya waktu itu ditodong, ayo jangan usul saja, berani bikin sekolah nggak? Saya bilang, oke, kita bikin sekolah untuk anak-anak,” ujarnya.

Dengan modal patungan, masyarakat bergotong royong membangun satu kelas. Setelah kelas jadi, mereka membuat tim untuk membuat kurikulum.

“Pasir kita ambil sendiri di sungai, semen kita minta mandor-mandor yang lagi bikin hotel, perumahan, tidak ada satu paku pun di bangunan ini dibeli pakai duit dari pemerintah. Setelah itu kita buat kurikulum yang berpusat pada anak,” jelasnya.

Pada pembukaan sekolah, mereka menerima 22 anak dari usia 3-7 tahun. Guru pengajar pun diambil dari relawan mahasiswa.

“Tahun pertama itu benar-benar sulit, saya waktu akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaan saya di LSM, fokus ke Sekolah,” tandasnya.

Jerih payah membangun sekolah tersebut pun terbayarkan. Saat ini mereka sudah memiliki dua kelas, guru profesional dan 39 murid. Rencananya mereka akan menambah kelas lagi pada tahun depan.

Related posts