Viral Penjual Lotis Ditipu Pembeli Pakai Uang Palsu, Cerita Perjuangan Hidupnya Terungkap

Pengguna media sosial terutama Instagram tengah dihebohkan dengan kasus penipuan yang menimpa penjual lotis di Kota Solo.

Cerita ini dibagikan pertama kali oleh akun Instagram @erie_suzannn dan menjadi viral setelah diunggah oleh akun @agendasolo.

Dalam postingannya, @agendasolo membagikan sebuah foto memperlihatkan seorang pria tua dengan sebuah gerobak berwarna biru berisi buah-buahan di belakangnya.

Di depan pria bercaping ini terlihat satu tangan yang memegang uang senilai Rp 50 ribu.

Selain foto, @agendasolo menuliskan:

Min mau kasih info kakeknya ini jualan buah tiap hari lewat depan toko sy, tadi siang ada yg nipu, kronologinya ada orang beli lotis 10rb dibayar pake uang 50rb palsu

terus orang itu masih nuker uang lagi 100rb uang palsu juga jadi kakeknya ketipu 150rb uang palsu, yg beli ini naik mobil min. Sy ga tega lihatnya kasian jualan buah sedikit udah tua, malah ditipu

Kiriman : @erie_suzannn

Dilansir dari Tribunnews, @erie_suzannn alasan dirinya membagikan kejadian tersebut lantaran merasa iba dengan pria bernama Mbah Tres ini.

“Saya cuma bantu kakeknya saja karena kasihan tidak tega kena tipu,” kata @erie_suzannn, Selasa (26/2/2020).

Besarnya rasa empati juga membuat @erie_suzannn mendatangi rumah Tres di Jalan Pringgolayan RT 3 RW 9, Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan, Solo.

Dalam pertemuannya dengan Mbah Tres, @erie_suzannn mendapat kisah inspiratif darinya.

“Sangat layak untuk dibantu. Saya sendiri tidak tega lihatnya, dengan cerita simbahnya kisah hidupnya luar biasa,” ujarnya.

@erie_suzannn tidak ia memanjatkan doa untuk Mbah Tres.

“Semoga simbahnya rejekinya lancar terus, banyak yang membantu, sehat terus. Aamiin,” ucapnya.

Dikutip TribunSolo, Mbah Tres memiliki nama lengkap Trisno Suwito yang berumur 91 tahun.

Kini Mbah Tres tinggal seorang diri di rumah kontrakan berukuran 2,5 meter x 4 meter.

Dari sini lah menjadi titik awal dirinya mendorong gerobak lotis sederhana warna biru miliknya.

“Saya ngontrak tahunan, dulu pernah setahun saya bayar Rp 25 ribu tapi sudah lama sekali, kalau sekarang Rp 200 ribu,” tutur Mbah Tres.

Mbah Tres melanjutkan kisahnya, ia hari-harinya berjualan lotis mulai 10.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Ia menyiapkan segala keperluan berjualan sendirian sebelum berkeliling menjajakan lotisnya.

Mbah Tres menjual satu porsi lotis sebesar Rp 10 ribu, dengan keuntungan Rp 500 per porsinya.

Sementara penghasilan per harinya pun tidak menentu.

“Bisa antara Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu per harinya, itu pun kalau laku,” katanya.

Keuntungan tersebut ada yang ia sisihkan untuk ditabung dan diberikan kepada istrinya tiap minggunya.

Sisanya, ia gunakan untuk membeli buah-buahan dan bahan baku lotis lainnya di Pasar Kadipolo Solo.

“Harga semangka sama pepaya kecil-kecil tadi kalau tidak salah Rp 10 ribu per kg, bengkoang Rp 10 ribu per kg,” ucap Trisno.

“Jadi ya keuntungan jualan lotis tergolong mepet sekali,” tambahnya.

Kepada jurnalis TribunSolo, Mbah Tres juga menceritakan kejadian yang belum lama ini menimpa dirinya.

Ia menjadi korban penipuan uang palsu senilai Rp150 ribu dari orang yang tak dikenal di kawasan Jalan Kalilarangan, Jayengan, Kota Solo.

Meskipun di tengah jalan, ada rombongan anggota TNI dermawan menolongnya dengan memberikan uang Rp 16 ribu.

Sementara uang palsu Rp 150 ribu diamankan oleh anggota TNI tersebut.

“Saya sempat khawatir tidak punya uang untuk jualan setelah tahu kalau uang yang saya terima itu palsu,” kata dia.

“Saya sampai tidak bisa mikir, pikiran saya waktu itu sempat memeng (berat), takut juga mau belanjakan uang itu,” tandasnya.

Usia memang bukan menjadi penghalang untuk bekerja keras apalagi demi mengais rezeki.

Mbah Tres rela berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya di kawasan Kelurahan Jayengan Solo demi membantu ekonomi keluarganya.

Kakek ini berkeliling sendiri tanpa ditemani sang istri yang tinggal bersama sang anak di rumahnya daerah Kabupaten Sukoharjo.

“Saya sudah berjualan lotis sejak 1971 dan biasanya keliling di daerah Jayengan,” katanya

“Jualannya sendiri, cuma kalau ada lelayu, orang punya hajatan seperti mantu atau khitanan, saya balik ke Sukoharjo dijemput anak saya,” imbuh Mbah Tres .

Related posts