Mahasiswa Politeknik Padang Ciptakan Gelang Antibegal

Berbagisemangat.com – Kelompok Pekan Kreatifitas Mahasiswa dari Politeknik Negeri Padang berhasil menciptakan sebuah gelang yang berguna untuk menimalisir aksi kejahatan di jalanan, khususnya begal. Gelang tersebut diberi nama “Gibal” (Gelang Antibegal).

Gelang ini digagas 3 mahasiswa, yakni Tiara Ramayani, Bobby Kurniawan, dan Fauziah Wulandari. Mereka berasal dari Jurusan Teknik Informatika (TI) Politeknik Negeri Padang.

Gibal diklaim mampu menjadi solusi pencegahan dini aksi kejahatan yang berbasis mikrokontroller. Karya mahasiswa yang kreatif ini, juga telah lolos seleksi dan meraih dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program Pekan Kreatif Mahasiswa 2018.

“Alat ini bekerja ketika kondisi pengguna merasa teracam. Cara kerjanya cukup mudah, pengguna hanya dapat menekan tombol pada alat Gibal jika terjadi sesuatu,” kata ketua kelompok, Tiara Ramayani ditemui langkan.id.

Sistem Gibal mendeteksi detak jantung. Informasi terkirim ke nomor telepon yang sudah dihubungkan ke sistem gelang ini.

“Pada sistem terdapat 2 metode yang berhubungan yaitu alat dan aplikasi. Alat bekerja mengirimkan lokasi secara real time dan jumlah denyut nadi pengguna,” ujarnya.

Tiara mengatakan, setelah data didapatkan selanjutnya akan disimpan dan diolah untuk diteruskan ke sesama pengguna aplikasi Gibal dan notifikasi sms akan masuk ke nomor bantuan yang sudah didaftarkan pengguna.

“Gibal bekerja menggunakan hotspot pribadi pada handphone pengguna. Otomatis untuk data nanti akan diterima kepada nomor yang telah terdaftar berupa pesan singkat berikut dengan lokasi keberadaan pengunaan secara riil,” ulasnya.

 

 

Tim penggagas Gibal sedang merencanakan untuk pembentukan suatu komunitas. Hal itu untuk mempermudah akses secara cepat bagi penguna, apabila memang terancam atau menjadi korban kejahatan begal.

“Kita akan membentuk juga komunitas Gibal, sebab apabila hanya tergantung kepada satu nomor penanggulangan terhadap korban cukup lama. Tapi dengan adanya komunitas otomatis nanti juga menerima pesan dan langsung menanggulangi kejadian,” bebernya.

Bobby Kurniawan, mengungkapan untuk server sistem aplikasi Gibal saat ini ditempatkan di gedung Politeknik Negeri Padang. Sedangkan pembuatan aplikasi mengunakan program Java dan android studio sebagai IDE bagi penguna.
“Di sisi server, kami mengunakan pemrograman PHP dan HTML untuk menampilkan data-data yang diterima yang diteruskan ke server,” tambahnya.

Dia menjelaskan, untuk satu Gibal membutuhkan proses pembuatan selama 2 bulan. Sedangkan modal untuk satu Gibal hanya memerlukan biaya sebesar Rp 170 hingga Rp 200 ribu.

“Sedangkan tingkat kesulitan saat ini susahnya mencari modul karena tidak ada dijual di Kota Padang. Modulnya kami beli secara online,” ungkapnya.

Meski persentasi awal sebagai program kreatif mahasiswa, namun tim Gibal bertekad ingin lebih mengembangkan dan memasarkan secara luas. Maka dari itu, tim Gibal sangat membutuhkan vendor-vendor yang mau bekerja sama untuk pengembangan pemasaran.

“Kami juga akan ikut mendaftar seminar yang akan dilaksanakan tanggal 3-4 September mendatang untuk memperkenalkan karya kami. Begitupun untuk saat ini juga lagi proses hak paten,” pungkasnya.

(Berbagisemangat.com – Kumparan)
Please follow and like us:

Related posts